allahuakbar

Mendidik dengan Menggoreskan Hati


Mendidik dengan menggoreskan hati
            Anak anak sangat ceria hari ini , wajar saja ini adalah hari pertama masuk setelah dua minggu masuk sekolah. Dengan riuh dan gembiranya mereka mencium tangan para guru guru di dalam kantor. Sampai saatnya murid murid menyapa dan menyalami aku, dengan semangat mereka bersalaman denganku . Namun ada hal yang aneh pada hari ini,murid murid memaksa agar aku masuk kelas mereka serambi mereka berkata “ kami rindu pak guru mengajar di kelas”. Sesaat aku berfikir kenapa murid-muridku berkata demikian,mungkin karena aku sangat baek kepada siswa atau mungkin ada sesuatu yang akan ditanyakan kepadaku.
            Jam pertama sehabis upacara aku masuk dalam kelas impian kita. Sesaat aku masuk yang kutanyakan kenapa menginginkan saya untuk masuk dalam kelas ini, ternyata mereka tidak sabar untuk menceritakan loncatan hidub dalam diri mereka pada saat liburan yang telah usai. Sebelum mereka bertanya aku bertanya apa yang akan mereka ceritakan, mereka berkata akan memberikan kejutan cerita pada hari ini. Kelasku adalah kelas yang penuh inspirasi, banyak anak-anakku yang bekerja pada masa liburan untuk mendapatkan uang untuk membayar uang sekolah. Dalam cerita anak anaku banyak kesan kesan yang aku dapatkan. Kebanyakan dari siswaku   bercerita tentang bagaimana mereka mengisi liburan ini dengan antusias . Kebanyakan dari mereka mengisi liburan dengan  bekerja dan mengaplikasikan ilmu yang guru guru berikan, maklum saja sekolah kami adalah sekolah kejuruhan jadi ilmu yang diberikan adalah yang siap dalam dunia kerja.
            Dikelas ini saya memberikan apresiasi bagaimana  tentang perjuangan anak anak. Di dalam hati saya sangat bersyukur atas motivasi dan dukungan selama ini ada hasilnya. Karena pada hakikatnya yang saya ajarkan adalah  bukan semata mata  bagaiman saya  mentrasfer ilmu kita kepada anak didik. Akan tetapi bagaimana saya telah merasuk dan  menggoreskan hati mereka agar mereka biasa dan berani menghadapi tantangan masa depan.

0 komentar:

insaallah